IMAM ALI AL-HADI


 IMAM MUHAMMAD AL-HADI




Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa (bahasa Arab: ابوالحسن علي بن محمد بن علي بن موسی) lebih dikenal dengan sebutan Imam Hadi as (212 H/827-254 H/868) putra dari Imam Jawad as dan Imam kesepuluh umat muslim Syiah. Ia juga dikenali dengan nama Imam Ali al-Naqi as. Ia sejak tahun 220 H/835 sampai 254 H/868 yaitu selama 34 tahun memegang jabatan keimamahan atas umat Islam Syiah.

Ia banyak menghabiskan masa keimamahannya di kota Samara Irak dan berbarengan dengan masa kekhilafaan sejumlah khalifah dari Bani Abbasiyah diantaranya khalifah Mutawakkil Abbasi. Ia dimakamkan di kota Samara, yang pada tahun 2004 kubah makamnya rusak akibat sebuah aksi peledakan yang dirusak kembali pada tahun 2005 melalui aksi peledakan dengan modus yang sama.

Imam Hadi as banyak meriwayatkan hadis mengenai akidah, tafsir Alquranfikih dan akhlak. Ziarah Jami'ah Kabirah salah satu doa ziarah yang masyhur dikalangan Syiah menurut keyakinan yang kuat juga diriwayatkan oleh Imam al Hadi as.

Dimasa keimamahannya, ia mendidik dan mencetak banyak murid yang kemudian menjadi ahli dan pakar dalam bidang agama. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah Abdul Adzhim al-HasaniUtsman bin Sa'id, Ayyub bin Nuh, Hasan bin Rasyid dan Hasan bin Ali Nashir.

Nama, Nasab dan Lakab

Ali bin Muhammad, yang masyhur dengan Imam Hadi dan Ali al-Naqi, adalah imam kesepuluh umat Islam Syiah. Ayahnya, Imam Jawad as adalah imam kesembilan umat Islam Syiah. Ibunya bernama Samanah al-Maghribiyah atau dalam riwayat lain Susan 

Lakab paling tersohor Imam kesepuluh Syiah adalah al-Hadi dan al-Naqi. Ia diberi lakab al-Hadi karena pada masanya merupakan pemberi petunjuk masyarakat yang paling bagus kepada kebajikan. Diantara lakab-lakab lain yang disebutkan untuknya adalah Murtadha, Alim, Faqih, Amin, Nashih, Mutawakkil, Khalish dan Thayyib.

Demikian juga umat Islam Syiah menyebut Imam Hadi as dan putranya Imam Hasan Askari as dengan "Imamain Askariyain" karena mereka berdua berdomisili di satu daerah beranama Askar.

Julukannya adalah Abu al-Hasan. Dan dalam sumber-sumber hadis ia dijuluki dengan Abu al-Hasan al-Tsalits (ketiga) supaya tidak keliru dengan Abu al-Hasan al-Awwal, yaitu Imam Kazhim as dan Abu al-Hasan al-Tsani, yaitu Imam Ridha as.

Biografi

Menurut pendapat Syekh al-Kulaini dan Syekh Thusi, Imam Hadi as lahir pada 15 Dzulhijjah tahun 212 H/827 di kawasan yang bernama Sharya di dekat kota Madinah.  Diyakini pula bahwa beliau lahir pada 2 atau 5 Rajab di tahun yang sama atau Rajab tahun 214 H dan Jumadil Akhir tahun 215 H.

Ia sampai tahun 233 H/847 hidup di Madinah. Pada tahun ini, Mutawakkil menghadirkan dia ke Samara dan ditempatkan disebuah daerah dibawah pengontrolannya bernama Askar. Ia selama 23 tahun, yakni hingga akhir hayatnya menetap di daerah Askar.[butuh referensi]

Tidak banyak data dan informasi dari kehidupan Imam Hadi as, Imam Jawad as dan Imam Askari as bila dibandingkan dengan imam-imam Syiah lainnya. Menurut sebagian peneliti, diantara penyebabnya adalah umur pendek para Imam ini, terisolasinya mereka dan ketidaksyiahan para penulis buku-buku sejarah saat itu.

Ukiran yang terdapat di batu cincin Imam Hadi as اللّه ربّی و هو عصمتی من خلقه‌; "Allah Tuhanku dan Dia lah pelindungku dari (kejahatan) makhluk-makhluk-Nya." Cincin lainnya berukiran kaligrafi yang bertuliskan, حفظ العهود من الخلاق المعبود; "Setia pada janji termasuk akhlak para hamba."

Keturunan

Ulama Syiah menyebut empat orang putra untuk Imam Hadi as dengan nama-nama: HasanMuhammad, Husain dan Ja'far. Ada juga seorang putri dinisbahkan kepadanya yang menurut Syekh Mufid bernama Aisyah dan menurut Ibnu Syahrasyub bernama Illiyah. Sebagian ulama Ahlusunah juga berpendapat sama, bahwa Imam Hadi as memiliki 4 putra dan seorang putri. 

Masa Keimamahan

Ali bin Muhammad sampai kepada maqam imamah pada tahun 220 H pada usia 7 tahun. Menurut laporan beberapa sumber, umur dini Imam Hadi as pada awal keimamahannya tidak membuat orang-orang Syiah menjadi ragu, sebab permualaan keimamahan Imam Jawad as pada usia dini menyebabkan mereka setelah itu tidak ragu lagi dalam menghadapi masalah seperti ini.

Syekh Mufid  menulis, orang-orang Syiah -kecuali segelintir orang- setelah imam yang kesembilan, menerima keimamahan Imam Hadi as. Segelintir orang ini meyakini keimamahan Musa bin Muhammad (W. 296 H/909) yang dikenal dengan nama Musa Mubarqa'. Namun dengan semua ini, setelah beberapa waktu mereka melepas diri dari keyakinannya itu dan bergabung dengan seluruh orang-orang Syiah.

Sa'ad bin Abdullah Asy'ari menyakini bahwa kembalinya sekelompok kecil itu kepada Imam Hadi as merupakan hasil dari pelepasan diri Musa Mubarqa dari mereka. Syekh Mufid dan Ibnu Syahrasyub menyakini bahwa kesepakatan pandangan orang-orang Syiah akan keimamahan Imam Hadi as dan tidak adanya pengakuan keimamahan dari siapapun selain dia adalah bukti kuat atas keimamahannya. Demikian pula Kulaini dan Syekh Mufid menyebutkan dan membawa beberapa nas terkait penetapan dan pembuktian keimamahannya dalam karya-karya tulisnya.

Menurut Ibnu Syahrasyub, orang-orang Syiah mengetahui keimamahan Ali bin Muhammad dari nas-nas para Imam sebelumnya, yaitu nas-nas yang dinukil oleh para rawi seperti Ismail bin Mahran, Abu Ja'far Asy'ari dan Khairani.

Khalifah-Khalifah Semasa Imam Hadi as

Imam Hadi as memegang tampuk kepemimpinan orang-orang Syiah selama 33 tahun, dari tahun 220 hingga 254 H. Dalam jenjang waktu ini ada beberapa orang khalifah Abbasiyah yang berkuasa; permulaan keimamahannya bersamaan dengan masa kekhilafahan Mu'tasham dan akhir keimamahannya bersamaan dengan masa kekhilafahan Mu'tazz.[butuh referensi]

Ibnu Syahrasyub percaya bahwa umur Imam Hadi as berakhir pada masa kekhilafahan Mu'tamad Abbasi.

Ali bin Muhammad, imam yang kesepuluh Syiah, menjalani keimamahannya selama 7 tahun pada masa khalifah Mu'tasham Abbasi. Menurut laporan-laporan sejarah, dibandingkan dengan masa keimamahan Imam Jawad as, pada masa Imam Hadi as Mu'tasham lebih sedikit menekan orang-orang Syiah dan lebih banyak bertoleransi terhadap kaum Alawi. Perubahan sikap ini diyakaini muncul dari keadaan ekonomi yang membaik dan berkurangnya pergerakan kaum Alawi. Masa keimamahan Imam kesepuluh Syiah sezaman dengan 5 tahun kekhilafahan Watsiq, 16 tahun kekhilafahan Mutawakkil, 6 bulan kekhilafahan Muntashir, 4 tahun kekhilafahan Musta'in dan 2 tahun kekhilafahan Mu'tazz.[butuh referensi]

Panggilan ke Samara

Mutawakkil Abbasi pada tahun 233 H/848 memutuskan untuk memaksa Imam Hadi as meninggalkan kota Madinah dan menetap di Samara. [butuh referensi] Ibnu Jauzi menyakini bahwa cemoohan sebagian orang kepada Imam Hadi as dan juga beberapa laporan tentang kecenderungan masyarakat kepada imam kesepuluh Syiah sebagai alasan Mutawakkil Abbasi untuk memanggil Ali bin Muhammad ke Samarra.

Menurut laporan Syekh Mufid, orang yang mengadukan Imam Hadi as kepada Mutawakkil bernama Abdullah bin Muhammad. Menurut catatan Mas'udi, Buraihah Abbasi pemimpin sekelompok orang yang diangkat sang khalifah di Haramain, dalam sebuah surat kepada Mutawakkil berkata, "Jika Anda menginginkan Mekah dan Madinah, maka keluarkan Ali bin Muhammad dari sana, sebab ia mengajak orang-orang kepadanya dirinya dan telah mengumpulkan sejumlah besar disekelilingnya." Atas dasar ini, Yahya bin Hartsamah diutus Mutawakkil untuk memindahkan Imam Hadi as ke Samarra. Imam Hadi as dalam sebuah surah kepada Mutawakkil menolak tentang cemoohan-cemoohan terhadap dirinya, namun Mutawakkil dalam jawabannya meminta Imam dengan penuh hormat untuk bergerak menuju Samarra.Kemudian mengirim surat balasan yang berisi penghormatan kepada Imam Hadi as dan memintanya untuk menuju Samara dan akan mendapatkan pengawalan khusus. Syekh Kulaini dan Syekh Mufid menuliskan transkrip lengkap surat Mutawakkil tersebut dalam masing-masing kitabnya. 

Mutawakkil untuk menjemput Imam Hadi as di kota Madinah dan membawanya ke Samara merancang skenario sedemikian rupa agar masyarakat tidak menaruh curiga dan merestui kepergian sang Imam. Imampun terpaksa memenuhi permintaan Mutawakkil, dan menuju Samara beserta rombongan penjemput yang diutus Mutawakkil. Sejak kepergian Imam Hadi as, umat Syiah sadar dan mengetahui secara pasti, skenario dibalik penjemputan tersebut.

Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Yahya bin Hartsamah bahwa penduduk Madinah sangat larut dalam kesedihan dan kebingungan serta menunjukkan reaksi-reaksi yang yang tidak mereka harapkan. Perlahan-lahan kesedihan mereka sampai pada suatu batas dimana mereka menjerit dan menangis, dan tidak pernah sebelumnya kota Madinah terlihat dalam keadaan seperti itu.

Imam Hadi as ketika memasuki Kazhimain disambut hangat oleh masyarakat setempat dan menetap di rumah Khuzaimah bin Hazim dan dari sana beliau dibawa ke Samarra. Syekh Mufid mengatakan, di hari pertama dimana Imam memasuki kota Samarra, Mutawakkil memerintahkan agar ia ditempatkan sehari di Khan Sha'alik (tempat berhentinya para musafir) dan keesokan harinya ia dibawa ke rumah yang telah disiapkan untuknya.

Menurut Shaleh bin Said, perbuatan ini dilakukan dengan niat merendahkan Imam Hadi as. Syekh Mufid percaya bahwa Imam Hadi as secara lahiriah mendapat perhormatan dari Mutawakkil, tetapi ia membuat konspirasi untuknya. Mutawakkil hendak menunjukkan Imam berperan sebagai salah seorang dari pelayan istana sehingga keagungan dan kewibawaannya berkurang dimata masyarakat. Berdasarkan laporan yang diberikan kepada Mutawakkil bahwa di rumah Imam terdapat pelaratan-peralatan perang dan beberapa surat dari para pengikutnya, Mutawakkil memerintahkan sejumlah prajurit menyerang rumah Imam secara mendadak. Tatkala mereka memasuki rumah Imam, mereka mendapatkan Imam di satu kamar sedang melantunkan ayat-ayat Alquran. Akhirnya Imam dibawa ke sisi Mutawakkil. Ketika Imam masuk di mejelis Mutawakkil, ia sedang memegang cankir arak dan mempersilakan Imam duduk disampingnya serta menawarkan minuman arak tersebut. Imam meminta maaf seraya berkata: "Darah-dagingku tidak pernah terlumuri oleh minuman arak". Tatkala itu Mutawakkil meminta Imam untuk membacakan syair yang membuatnya gembira. Imam berkata: "Saya akan membaca syair sedikit". Namun Mutawakkil memaksanya supaya membacakan beberapa syair. Syair-syair Imam itu mempengaruhi Mutawakkil dan orang lain dimana wajah Mutawakkil sampai basah lantaran banyak menangis dan memerintahkan supaya sufrah minuman arak itu disingkirkan. Kemudian ia memerintahkan agar Imam dipulangkan ke rumahnya dengan penuh penghormatan.

Beberapa penulis mencatat alasan-alasan sikap marah Mutawakil kepada Imam Hadi as sebagai berikut:

  1. Mutawakil ditinjau dari kaca mata teologis cenderung kepada pemikiran ahli hadis yang mana mereka anti Mu'tazilah dan Syiah. Ahli hadis mendorong Mutawakkil untuk benci Syiah dan hasilnya adalah Syiah mendapatkan serangan keras.
  2. Mutawakkil mengkhawatirkan satus sosialnya dan merasa takut dari hubungan masyarakat dengan para Imam Syiah. Oleh karena itu ia berupaya keras memutus hubungan ini. Dalam hal ini Mutawakkil merusak pusara Imam Husain as, meratakan tanah daerah tersebut, mempersulit para peziarah Imam Husain dan menjalankan hukum yang mengerikan.

Pasca kekuasaan Mutawakkil, kekhalifaan jatuh ditangan putranya yang bernama Muntashir. Pada periode ini, tekanan pemerintah kepada kelurga Alawi termasuk Imam Hadi as mulai berkurang.

Sikap Imam Hadi as Kepada Syiah Ghulat

Pada periode keimamahan Imam Hadi as, Syiah Ghulat masih aktif. Mereka memperkenalkan diri mereka sebagai sahabat-sahabat dan kerabat-kerabat Imam dan menyandarkan beberapa persoalan kepada para Imam termasuk Imam Hadi as. Berdasarkan surat Ahmad bin Muhammad bin Isa kepada Imam Hadi as, hati-hati merasa jijik dari mendengarkan persoalan-persoalan tersebut, dan dari sisi lain karena dinisbatkan kepada para Imam, maka mereka tidak berani untuk mengingkari dan menolaknya. Misalnya, mereka meyakini bahwa maksud dari "fakhsya'" dan "munkar" dalam ayat إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ‌  adalah mengisyaratkan kepada seseorang yang bukan ahli ruku dan sujud. Dan, maksud dari "zakat" adalah pribadi tertentu dan bukan membayarkan harta. Demikian juga mereka mentakwil sebagian hal-hal yang wajib dan haram. Imam Hadi as dalam menjawab Ahmad bin Muhammad menulis, "Takwilan-takwilan semacam ini bukan dari agama kami, maka menjauhlah kalian darinya". Fath bin Yazid Jurjani percaya bahwa makan dan minum tidak sesuai dengan kedudukan imamah dan para Imam tidak butuh kepada makan dan minum. Imam Hadi as dalam menjawabnya berdalih dengan makan dan minumnya para Nabi dan berjalannya mereka di pasar seraya bersabda: "Setiap badan memiliki sifat demikian kecuali Tuhan yang membadankan badan".

Imam kesepuluh Syiah dalam menjawab surat Sahl bin Ziyad yang mengabarkan tentang keghuluan Ali bin Haskah, menolak kecintaan dan keterikatan Ali bin Haskah kepada Ahlulbait, membatilkan ucapan-ucapannya dan meminta para pengikutnya untuk menjauhi dia serta mengeluarkan hukum pembunuhannya. Berdasarkan surat ini, Ali bin Haskah meyakini ketuhanan (uluhiyah) Imam Hadi as dan memperkenalkan dirinya sebagai pintu ilmu dan utusan Imam.Imam Hadi as melaknat Syiah-syiah Ghulat seperti Muhammad bin Nashir Namir , ketua kelompok Nashiriyah, Hasan bin Muhammad yang terkenal dengan sebutan Ibnu Baba dan Faris bin Hatim Qazwini. Imam as dalam sebuah surat berlepas diri dari Ibnu Baba Qummi seraya berucap: "Dia mengira aku mengutus dia dan dia menjadi pintuku. Setan telah menyesatkannya."

Imam Hadi as meminta para Syiahnya untuk mengingkari Faris bin Hatim dan dalam perbedaan yang terjadi diantara dia dan Ali bin Ja'far Alhamani untuk berpihak kepada Ali bin Ja'far dan menolak Ibnu Hatim. Beliau juga memerintahkan kepada siapapun Syiahnya yang mampu untuk membunuhnya, bahkan memberikan jaminan kebahagiaan ukhrawi dan surga bagi yang bisa melakukannya. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Syiah mengenai Ibnu Hatim, beliau menyatakan lepas diri darinya. Ja'farian, sejarwan kontemporer, berkata, 'Banyaknya riwayat mengenai Ibnu Hatim dalam Rijal Kasysyi menunjukkan adanya bahanya besar darinya yang mengancam Syiah.'

Sosok lain ghulat yang menganggap dirinya sebagai sahabat Imam Hadi as adalah Ahmad bin Muhammad Sayyari, yang diyakini oleh mayoritas pakar rijal sebagai ghulat dan berakidah rusak. Buku al-Qiraat miliknya termasuk dari referensi-referensi asli riwayat yang dijadikan sandaran oleh beberapa orang untuk membuktikan tahrif Alquran.

tokoh lain ghulat di era ini adalah Husain bin Ubaidillah Muharrar yang dikeluarkan dari Qom karena tertuduh ghulat.Imam Hadi as dalam sebuah surat yang dinukil oleh Ibnu Syu'bah al-Harrani menekankan tentang keotentikan Alquran dan menjadikannya sebagai barometer untuk mengidentifikasi riwayat-riwayat yang shahih dari yang tidak shahih serta secara resmi memperkanelkan Alquran sebagai satu satunya matan yang dijadikan sandaran oleh semua kelompok Islam.[butuh referensi]. Beliau juga bersandar kepada Alquran dalam masalah-masalah kontroversial.

Abbas bin Shadaqah, Abul Abbas Tharnani (Thabrani) dan Abu Abdullah Kindi yang terkenal dengan Syah Rais adalah tokoh-tokoh lain ghulat pada periode ini. Imam Hadi as as membela orang-orang Syiah yang secara keliru dituduh ghulat dan tatkala warga Qom mengeluarkan Muhammad bin Urmah dari Qom dengan tuduhan ghulat, Imam kesepuluh Syiah mengeluarkan surat kepada penduduk Qom sebagai pemebelaannya kepada Muhammad bin Urmah dan membersihkan dia dari tuduhan ghulat.

Hubungan Imam as Dengan Umat Syiah

Imam Hadi as menjalin hubungan dengan para Syiahnya di berbagai wilayah melalui Lembaga Perwakilan yang dibentuknya, sebagaimana yang juga dilakukan imam-imam sebelumnya. Mayoritas pecinta dan pendukung Imam Hadi as bermukim di Iran kala itu.

Imam Hadi as menjalin hubungan dengan Syiahnya yang tersebar di Irak, Yaman, Mesir dan negeri-negeri Islam yang lain. Lembaga perwakilan yang dibentuk Imam Hadi as lah yang memperkuat dan memperlancar hubungan antara Imam Hadi as dengan para Syiahnya. Para wakil tersebut bertugas untuk mengumpulkan khumus dan mengirimkannya kepada Imam as. Wakil-wakil Imam tersebut juga membantu persoalan yang dihadapi umat Syiah di negeri mereka berada, seperti isu-isu kalam dan persoalan fikih.

Para wakil tersebut menjalin hubungan dengan Imam melalui surat yang diantar oleh kurir yang bisa dipercaya. Yang kemudian menyampaikan kepada umat Syiah ditempat mereka berada mengenai ilmu-ilmu Islam, baik kalam maupun persoalan fikih. Ali bin Ja'far salah seorang wakil Imam Hadi as yang bermukim di Haminiyah salah satu desa di Baghdad. Oleh mata-mata kerajaan, aktivitas dan keberadaannya dilaporkan kepada Mutawakkil yang kemudian memerintahkan agar ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Setelah mendapat hukuman pemenjaraan sekian lama, iapun dibebaskan, dan Imam Hadi as memerintahkan agar ia ke Mekah dan iapun menetap di kota tersebut sampai akhir usianya. 

Hasan bin Abdurrabbah, salah seorang wakil Imam yang lain, yang pasca wafatnya digantikan oleh Abu Ali bin Rasyid yang ditunjuk langsung oleh Imam Hadi as sendiri yang memberinya tugas sebagai wakil pengganti. Dinukil dari Kassyi yang menyebutkan Ismail bin Ishaq Naisyaburi memberi kesaksian bahwa Ahmad bin Ishaq ar-Razi adalah juga salah seorang wakil Imam Hadi as yang lain. 

Imam Hadi as dan Komunitas Syiah Iran

Mayoritas Muslim Syiah pada kurun awal adalah penduduk Kufah. Sehingga jika ada seorang tokoh yang diberi gelar Kufi, adalah untuk menunjukkan bahwa ia adalah orang Syiah. Sementara di masa Imam Baqir as dan Imam Shadiq as, lakab Qummi dibelakang nama seseorang menunjukkan ia adalah salah seorang sahabat Aimmah as. Pada masa Imam Hadi as, Qom menjadi kota terpenting bagi umat muslim Syiah di Iran dan memiliki hubungan yang intens dengan Imam Hadi as. Jika di Kufah pada masa Imam Hadi as menjadi kota tempat bermunculan dan berkembangnya paham-paham yang menyimpang dan ghuluw yang mengatasnamakan Syiah maka Qom menjadi pusat penyebaran ajaran Ahlulbait as yang menentang kelompok Syiah Ghulat tersebut dan memberikan konfirmasi atas ajaran Ahlulbait as yang semestinya. Disamping kota Qom, kota Aba, Awa dan Kasyan adalah juga menjadi kota-kota pendidikan dan penyebaran Mazhab Syiah, Hal ini diketahui dari penggalan riwayat yang menyebutkan nama Muhammad bin Ali Kasyani pada bab tauhid yang mengajukan pertanyaan kepada Imam Hadi as. 

Dimasa Imam Hadi as kota Qom juga menjadi sumber finansial bagi kebutuhan-kebutuhan dakwah dan kebutuhan umat Syiah secara umum. Muhammad bin Dawud al-Qomi dan Muhammad Thalhi disebutkan sebagai sosok penting yang menjadikan Qom sebagai kota pengumpul khumus terbesar. Keduanya juga berperan besar dalam menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan permintaan bimbingan dari masyarakat Qom kepada Imam Hadi as. 

Mendapat penegasan dan anjuran dari Imam Hadi as untuk menziarahi makam Imam Ridha as di kota Masyhad, warga Qom dan Awa pun rajin melakukan ziarah ke makam suci Imam tersebut.  Hal ini menjadi perekat jalinan emosional antara Syiah Qom dengan Aimmah as, termasuk juga Syiah di kota-kota lain di Iran. Meskipun pada masa itu, tetap kebanyakan dari kota-kota di Iran yang dikarenakan berada di bawah pengaruh dari Dinasti Umayyah dan Abbasiyah adalah termasuk sebagai kota-kota yang bermayoritas bermazhab Sunni dan Syiah menjadi warga minoritas.

Abu Maqatil Dailami salah seorang sahabat Imam Hadi as, menulis kitab-kitab hadis dan kalam mengenai masalah Imamah. Kota Dailam, sekarang dibagian timur Ghilan di penghujung akhir kurun kedua Hijriah merupakan salah satu kota pemukiman umat Syiah terbesar. Mereka yang menetap di Irak dan berasal dari Dailami bisa dipastikan bahwa mereka penganut Syiah.

Dari lakab yang digunakan sahabat-sahabat Imam Hadi as maka dapat dikenali asal negeri mereka sehingga diketahui pula bahwa di kota tersebut terdapat komunitas Syiah. Seperti misalnya, Basyar bin Basyār an-Naisyaburi, Fath bin Yazid Jurjani, Ahmad bin Ishaq ar-Razi, Husain bin Sa'id Ahwazi, Hamadan bin Ishak Khurasani dan Ali bin Ibrahim al-Thaliqani. Dari nama-nama sahabat Imam Hadi as tersebut diketahui bahwa ajaran mazhab Ahlulbait as kala itu tersebar dihampir semua kota di Iran. Khusus kota Jurjan dan Naisyabur sejak abad keempat Hijriah menjadi diantara kota keilmuan dan pusat penyebaran Syiah. Diriwayatkan bahwa sahabat-sahabat Imam Hadi as juga ada yang berasal dari Qazwin. 

Di kota Isfahan meskipun saat itu mayoritas penduduknya Sunni bermazhab Hanbali namun juga terdapat komunitas Syiah dan sejumlah ulama Syiah, diantaranya adalah Ibrahim bin Syaibah Isfahani, walaupun sebenarnya ia asli dari Kasyan, namun karena telah lama menetap di Isfahan maka gelar Isfahani pun melekat padanya. Sebaliknya, sahabat Imam Hadi as lainnya, yaitu Ali bin Muhammad Kasyani meski gelarnya Kasyani namun ia berasal dari Isfahan. 

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman adalah salah seorang sahabat Imam Hadi as yang berasal dari Isfahan. Ia bertemu dengan Imam Hadi as di Samara dan tertarik dengan ajaran-ajaran yang disampaikan keturunan Nabi Muhammad saw tersebut, yang kemudian sekembalinya ke Isfahan ia menjadi penyebar mazhab Syiah dan menyampaikannya kepada masyarakat setempat.  Riwayat lain menyebutnya bahwa Imam Hadi as pernah menulis surat yang ditujukan kepada wakilnya di Hamedan, yang menunjukkan komunitas Syiah juga terdapat di kota tersebut.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar